Ketertarikan pada lanskap Indonesia bermula dari pengamatan sederhana di lapangan. Ada kesadaran bahwa bentang alam tidak hanya sekadar latar belakang visual bagi perjalanan manusia, melainkan sebuah entitas dinamis yang menyimpan rekam jejak ekologis, geologis, dan historis secara bersaman.
Eksplorasi alam liar sering kali berhenti pada pencapaian personal—pada garis akhir sebuah pendakian atau pemetaan jalur baru. Namun, dari rentetan observasi yang dilakukan secara berulang, perlahan muncul kebutuhan fundamental untuk menggeser fokus. Bergeser dari sekadar upaya melintasi wilayah, menjadi upaya merekam dan mendokumentasikan ruang.
Pada titik inilah proses kearsipan dimulai. Sebuah observasi baru memiliki nilai ketika ia dipelajari, disusun, dan dapat diwariskan.